Masa orientasi atau ospek seharusnya jadi momen seru buat kenal kampus, dosen, dan teman baru. Tapi sayangnya, di beberapa tempat masih aja ada tradisi perpeloncoan berlebihan yang bikin mahasiswa baru gak nyaman — mulai dari bentakan gak jelas, tugas absurd, sampai “hukuman” yang gak masuk akal.
Kalau kamu calon mahasiswa baru, penting banget buat tahu cara menghindari perpeloncoan berlebihan saat masa orientasi tanpa harus berkonflik sama panitia atau senior. Tenang, kamu tetap bisa bertahan dengan elegan, tegas, dan tetap aman. Yuk, bahas satu-satu triknya!
1. Pahami Tujuan Asli Orientasi
Pertama-tama, kamu harus tahu dulu: tujuan orientasi bukan buat nindas mahasiswa baru. Orientasi itu dirancang supaya kamu bisa:
- Adaptasi dengan lingkungan kampus.
- Kenal sistem akademik dan kegiatan organisasi.
- Belajar nilai-nilai kedisiplinan dan solidaritas.
Jadi, kalau ada aktivitas yang isinya cuma bentak-bentak, suruh joget aneh, atau minta hal pribadi yang gak relevan, itu udah keluar dari tujuan orientasi. Kamu berhak nolak dengan cara baik-baik.
2. Kenali Batas Antara “Kedisiplinan” dan “Pelecehan”
Senior boleh ngajarin kamu disiplin, tapi gak ada alasan buat menghina, merendahkan, atau mempermalukan. Beda banget antara latihan mental dan pelecehan verbal.
Ciri perpeloncoan berlebihan antara lain:
- Suruhan yang gak masuk akal (bawa barang aneh, jalan jongkok, dll).
- Bentakan atau makian di depan umum.
- Hukuman fisik atau menyentuh tubuh tanpa izin.
- Tindakan yang membuat kamu malu atau takut.
Kalau kamu ngalamin salah satu hal di atas, itu bukan “pendewasaan diri” — itu pelanggaran etika, bahkan hukum.
3. Bangun Mental Tenang dan Tegas
Salah satu alasan kenapa banyak senior “menekan” maba (mahasiswa baru) adalah karena mereka lihat reaksi takut. Makanya kamu perlu latihan tenang dan gak gampang panik.
Tipsnya:
- Jawab semua perintah dengan sopan tapi mantap.
- Jangan melawan, tapi juga jangan tunduk berlebihan.
- Kalau dibentak, tarik napas, tatap mata dengan tenang, dan jawab seperlunya.
Sikap tenang nunjukin kamu punya kontrol diri, bukan pembangkangan. Senior justru bakal segan sama maba yang bisa tenang tapi tetap sopan.
4. Pahami Hak Kamu Sebagai Mahasiswa Baru
Kampus bukan milik senior. Kamu juga punya hak dilindungi secara akademik dan hukum. Undang-undang Pendidikan Tinggi dan banyak peraturan kampus udah melarang segala bentuk kekerasan atau pelecehan di kegiatan orientasi.
Kamu berhak:
- Menolak kegiatan yang tidak manusiawi.
- Melapor ke panitia resmi atau dosen pembimbing kalau ada penyimpangan.
- Mendapatkan perlakuan setara dengan mahasiswa lain.
Jadi, jangan takut. Kamu bukan melawan sistem — kamu cuma menjaga dirimu sendiri.
5. Cari Informasi Tentang Panitia dan Struktur Acara
Sebelum hari orientasi, kamu bisa cari tahu dulu siapa panitianya dan seperti apa acaranya. Biasanya kampus ngeluarin rundown resmi atau daftar kegiatan.
Kalau ternyata kamu dengar rumor ada kegiatan aneh atau gak wajar, kamu bisa:
- Tanya langsung ke panitia resmi (bukan senior biasa).
- Cross-check ke bagian kemahasiswaan atau dosen pembimbing.
- Gabung ke grup mahasiswa baru buat saling update info.
Dengan tahu siapa yang bertanggung jawab, kamu bisa lebih siap kalau terjadi hal gak sesuai aturan.
6. Jaga Sikap, Tapi Jangan Jadi “Yes Man”
Banyak mahasiswa baru takut dibilang “gak kompak” atau “baperan” kalau nolak tugas absurd. Padahal kamu tetap bisa sopan tanpa harus menuruti semua hal.
Contoh respon elegan:
“Izin, Kak, kalau tugas ini gak bisa saya lakukan, boleh saya ganti bentuknya aja biar tetap sesuai tema?”
Kamu gak langsung nolak, tapi ngasih alternatif sopan. Senior yang punya niat baik bakal ngerti, sedangkan yang niatnya cuma mau “melonco” bakal kehilangan alasan buat maksa.
7. Jangan Sendirian
Kamu lebih mudah ditekan kalau kamu sendirian. Jadi, bangun solidaritas positif sama teman maba lain. Kalau ada kegiatan yang gak wajar, bicarakan bareng, jangan diem sendiri.
Kalau satu orang yang protes bisa dianggap “baper”, tapi kalau sepuluh orang yang ngomong, itu jadi sinyal bahwa ada yang salah dengan sistemnya.
Ingat, kebersamaan bukan berarti nurut terus, tapi berani saling jaga.
8. Hindari Sikap Konfrontatif
Kamu boleh tegas, tapi jangan sampai frontal atau ngegas balik. Orang yang niat “melonco” kadang cuma pengen nyari reaksi kamu. Kalau kamu terpancing emosi, mereka justru merasa menang.
Cara menghadapi mereka:
- Tahan diri, jangan jawab dengan nada tinggi.
- Fokus ke hal penting — jangan debat di tempat.
- Kalau perlu, catat kejadian buat dilaporin nanti.
Kamu gak perlu menang hari itu. Cukup tunjukin kamu berkelas dan gak mau turun ke level mereka.
9. Dokumentasikan Kalau Ada Hal Gak Wajar
Kalau kamu ngerasa ada perpeloncoan berlebihan, jangan ragu buat catat atau dokumentasikan secara diam-diam. Tapi ingat, lakukan dengan hati-hati dan jangan provokatif.
Catat hal seperti:
- Waktu dan tempat kejadian.
- Siapa yang terlibat.
- Bentuk pelanggarannya.
Dokumentasi ini bisa jadi bukti kuat kalau kamu mau lapor ke pihak kampus. Banyak kasus kekerasan kampus yang baru bisa ditindak karena ada mahasiswa berani ngumpulin bukti.
10. Laporkan ke Pihak yang Tepat
Kalau situasi udah kelewat batas, jangan takut buat melapor. Kamu bisa lapor ke:
- Panitia resmi orientasi (yang ditunjuk kampus).
- Dosen pembimbing atau ketua prodi.
- Bagian kemahasiswaan atau lembaga etika kampus.
Kampus yang sehat pasti bakal menindaklanjuti laporan ini dengan serius. Dan jangan takut dicap “lemah” — justru kamu menunjukkan keberanian dengan melindungi diri dan teman-temanmu.
11. Gunakan Bahasa dan Gestur Aman
Kalau kamu lagi dalam situasi gak nyaman tapi gak bisa langsung pergi, gunakan bahasa tubuh netral:
- Jangan menantang dengan ekspresi sinis.
- Jangan nunjuk atau melotot.
- Tunjukkan sikap hormat tapi jaga jarak aman.
Gestur kayak gini bisa bantu kamu keluar dari situasi berpotensi konflik tanpa memperkeruh keadaan.
12. Jauhi Lingkungan Toxic
Kalau kamu udah tau dari awal kalau ada kelompok atau organisasi yang punya budaya “melonco” atau “paling senioritas”, lebih baik hindari. Kamu gak perlu ikut semua kegiatan cuma demi eksis.
Pilih lingkungan yang suportif, bukan yang toxic. Karena dari situ juga kamu bakal berkembang lebih sehat secara mental dan sosial.
13. Bangun Citra Mahasiswa yang Positif
Senior biasanya lebih menghormati mahasiswa baru yang punya attitude bagus. Kamu gak perlu nyari perhatian, cukup tunjukkan sikap sopan, disiplin, dan tanggung jawab.
Citra positif bisa kamu bangun lewat:
- Datang tepat waktu.
- Mengikuti arahan dengan baik.
- Komunikatif tanpa berlebihan.
Kalau kamu dikenal sopan dan serius, bahkan senior “galak” pun bakal segan.
14. Gunakan Dukungan dari Dosen atau BEM
Kalau kamu gak nyaman ngomong langsung ke senior, kamu bisa cari bantuan dari dosen pembimbing akademik, BEM, atau panitia resmi kampus. Mereka biasanya udah punya mekanisme khusus buat menangani masalah kayak gini.
Mereka bisa bantu mediasi, bahkan memberi perlindungan kalau situasi makin parah. Jangan biarkan masalah ini kamu tanggung sendirian.
15. Fokus ke Tujuan Kuliah, Bukan Kesan Senior
Ingat, kamu ke kampus bukan buat cari pengakuan senior, tapi buat belajar dan berkembang. Senior yang baik bakal menghargai kamu karena kerja keras, bukan karena kamu nurut buta.
Jadi, jangan takut dibilang “baper” atau “kurang solidaritas”. Justru kamu menunjukkan kedewasaan dengan tahu batas dan berani berkata tidak.
FAQ: Cara Menghindari Perpeloncoan Berlebihan Saat Masa Orientasi
1. Apakah semua orientasi kampus pasti ada perpeloncoan?
Enggak. Banyak kampus sekarang udah ubah orientasi jadi kegiatan edukatif, kreatif, dan bebas kekerasan.
2. Apa yang harus dilakukan kalau disuruh hal gak masuk akal?
Tolak dengan sopan, atau bilang kamu akan konfirmasi ke panitia resmi dulu. Jangan langsung menolak keras di depan umum.
3. Gimana kalau takut dilaporin balik ke senior?
Kalau kamu punya bukti dan laporan kamu disampaikan ke pihak kampus resmi, kamu dilindungi oleh aturan kampus.
4. Apakah nolak kegiatan berlebihan itu berarti gak hormat ke senior?
Enggak. Justru kamu menghormati diri sendiri dan sistem kampus yang benar.
5. Gimana cara tetap diterima senior tapi gak ikut hal gak masuk akal?
Tunjukkan kamu tetap sopan, aktif, dan punya semangat belajar. Senior sejati menghargai itu, bukan ketaatan buta.
6. Siapa yang harus dihubungi kalau terjadi kekerasan saat orientasi?
Hubungi dosen pembimbing, panitia resmi orientasi, atau bagian kemahasiswaan. Kalau parah, kamu juga bisa lapor ke pihak berwenang.
Kesimpulan
Menghadapi perpeloncoan berlebihan saat masa orientasi kampus bukan berarti kamu harus takut atau tunduk. Dengan bersikap tenang, sopan, tapi tetap tegas, kamu bisa melindungi diri tanpa menciptakan drama.
Ingat, orientasi sejati itu bukan tentang “siapa yang paling kuat”, tapi tentang bagaimana kamu belajar mengenal dunia kampus dan dirimu sendiri dengan cara yang bermartabat.